Sejumlah wilayah di Indonesia telah bersiaga menanggulangi dimulainya 'musim' kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini menyusul peringatan kemarau panjang serta 'serangan' El Nino Godzilla oleh BMKG beberapa waktu lalu.
Kedua hal ini, kemarau dan El Nino, akan menjadi fusi yang berpotensi menimbulkan bencana karhutla bila terjadi dalam waktu yang bersamaan. Sebelumnya BMKG juga menyebut jika kondisi iklim pada 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal. Sementara itu dalam periode yang sama, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) pada semester pertama 2026 masih berada pada fase netral. Sementara itu pada semester kedua 2026, kondisi tersebut akan berubah dan diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50-80 persen.
Akademisi Universitas Palangka Raya, Aswin Usup, mengatakan jika penanganan karhutla harus dilatarbelakangi oleh political will. Lebih lanjut ia mengatakan jika selama ini pemadaman api yang melahap wilayah hutan maupun lahan gambut hanya sebatas reaksi belaka. Tanpa bermaksud menyalahkan, dirinya melihat jika ada solusi yang tepat untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.
Lalu apa solusi yang ia tawarkan? Bagaimana dirinya melihat peta jalan pemerintah soal pencegahan karhutla? Temukan jawabannya dalam detikSore!











































