CISDI menilai narasi 'gratis' berpotensi menciptakan relasi kuasa yang timpang, di mana masyarakat terutama anak-anak, didorong untuk menerima tanpa kritik. Bahkan, temuan CISDI menunjukkan anak-anak bisa merasa bersalah saat menerima makanan bermasalah, karena diajarkan untuk tetap bersyukur atas apa pun yang diberikan negara.