“Broken Strings aku tulis bukan untuk menyerang siapapun atau memicu ribut. Tujuannya berbagi pengalaman dan membantu. Aku ingin kita tetap fokus pada makna ceritanya dan tujuan pemulihannya, bukan konflik personal,” ujar Aurelie lewat Instagram-nya.
Broken Strings dirilis dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris, juga buku fisik yang masih dalam proses proofreading. Bagi Aurelie, menulis buku ini merupakan bagian dari proses penyembuhan.
“Aku belum sepenuhnya sembuh saat menulis buku ini. Menulis justru jadi bagian dari proses sembuhku,” katanya.