Langkah cepat yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi. Meski demikian, dampak yang ditimbulkan akibat penutupan sejumlah bandara akibat letusan Gunung Anak Krakatau juga perlu segera ditangani. Seperti diketahui, empat dari tujuh bandara yang ditutup merupakan bandara komersial dengan layanan penerbangan tak hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri.
Mengutip data InJourney yang diambil dari detikFinance, setidaknya ada 2.300 penerbangan dan 268.539 penumpang terdampak sejak awal penutupan pada Sabtu (5 September 2026) hingga Senin (7 September 2026) pukul 09.00 WIB. dari angka tersebut, Bandara Soekarno-Hatta Tangerang Banten menyumbang angka 1.320 penerbangan dan 173.474 penumpang terdampak.
Menanggapi efek penutupan bandara tersebut, Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong Kementerian Perhubungan untuk menyiapkan bandara alternatif. Adapun beberapa bandara yang ditunjuk antara lain Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka, Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Yogyakarta, serta Bandara Juanda Surabaya.
Lalu sejauh mana bandara-bandara ini dapat menampung limpahan jumlah penerbangan yang sempat tertunda? Berdasarkan kondisi ini, sejauh mana ketahanan sistem penerbagangan di Indonesia terhadap berbagai ancaman khususnya bencana alam? Simak ulasannya dalam detikSore bersama Pakar Aviasi, Alvin Lie.










































